Dakwah Kisah

Kami tidak tahu ini musibah atau rahmat dari Alloh, kami hanya berprasangka baik kepada Alloh

Berprasangka baik Kepada Allah

Abdullah Teguh | Senin, 10 Juli 2017 - 14:37:37 WIB | dibaca: 163 pembaca

khusnudhon

Sebuah kisah berprasangkan baik kepada Alloh, SWT.

Suatu kisah pada masa dinasti Abbasiyah.

Pada Zaman kekhalifahan dahulu, hiduplah seorang budak yang meiliki keimanan yang luar biasa. Ia merupakan hidup dengan bekerja dengan giat. Ia memiliki niat untuk membebaskan diri dari tuannya. maka ia bekerja dengan lebih giat, bila biasanya budak-budak yang lain bekerja selama 12 jam sehari maka ia bekerja lebih lama lagi, mungkin sampai 14 jam.

Setiap hari ia bekerja dengan giat tanpa lelah untuk mengumpulkan uang untuk kebebasan dirinya darinya darituanya.Sehingga dengan giatnya bekerja dia dapat mengumpulkan uang yang banyak. Namun, pada suatu hari tuannya mendapatkan rezeki yang besar dan banyak, sehingga sebagai rasa syukur tuannya ini membebaskan budaknya ini dan ada tambahan yang sekian dinar untuk budak ini menjalani kehidupan selanjutnya.

Dimulailah babak baru hidup budak tersebut dalam menjalani kehidupan barunya sebagai seorang yang merdeka. Ia bekerja tetap dengan rajinnya sehingga ia memiliki seorang Istri yang shalih. dan ia berkata *” Aku tak tau, apakah ini rahmat atau musibah, aku hanyalah behusnozon pada Allah atas segalanya*.
Maka Allah SWT memberikannya sorang putra. Pada usia putranya 2 tahun istri yang dikasihinya meninggal dunia dengan meninggalkan seorang putra yang masih kecil. Ia hanya mengatakan *” Aku tak tau, apakah ini musibah atau berkah, aku hanyalah berprasangka baik pada Allah’.*

Dirawatlah putranya itu dengan penuh kasih sayang, didiknya putranya dengan berbagai ilmu keislaman, didiknya putranya berenang, berkuda dan menggunakan pedang dan semangat syahid. sampai putranya dewasa, Pada suatu hari ia berkata pada putranya ingin memiliki seekor kuda perang yang gagah dan kuat. Maka ia bersama putranya menumpulkan uang untuk membeli seekor kuda yang didiinginkan tersebut. dengan bersusah pada ia akhirnya dapat mengumpulkan uang untuk membeli kuda tersebut, sehingga para tetangganya bertanya pada orangtua dan putranya tersebut, dan ia menjawab, *” Aku tak tau, apakah ini musibah atau berkah, aku hanyalah berprasangka baik pada Allah”.* dan kuda tersebut merupakan kuda liar yang ditangkap dan dirawat oleh tuan penjual.

maka dirawatlah kuda tersebut dengan sebaik-bainya sehingga membuat kuda tersebut sehat dan kuat. Mereka sisihkan sekitar 70% dari penghasilannya untuk merawat kuda tersebut, dan sisanya untuk makan mereka. sehingga para tetangganya berkata.” aneh kalian ini, hidup kalian sudah susah, cari duinya pun sudah dengan susah payah, malah kalian merawat kuda dengan sedemikian baiknya, dan Mantan Budak dan anaknya ini menjawab *” Aku tak tau, apakah ini musibah atau berkah, aku hanyalah berprasangka baik pada Allah”.*

Pada suatu malam, kuda yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang tersebut melarikan diri, sehingga para tetangga berkata pada mereka sambil menyindir. Aduh kasian banget, sudah dirawat dengan baik-baik dan penuh perhatian, malah kudanya nya kabur meninggalkan rumah, dan jawaban jawaban mantan budak dan anaknya tersebut *” Aku tak tau, apakah ini musibah atau berkah, aku hanyalah berprasangka baik pada Allah”.*
Maka ia tetap memulai paginya denga bekerja seperti biasa. tanpa ada rasa beban atas kaburnya kuda mereka.

Maka pada suatu malam ramailah kandang dimana biasa mereka menyimpan kuda mereka dengan suara kuda-kuda. tak disangka kuda yang selama ini mereka sangka telah kabur kembali lagi dengan membawa teman-temannya dari padang rumput. sehingga penuhlah sesaklah kandangnya dengan banyak kuda yang datang. namun begitu Ia dan anaknya tetap merawat kuda-kuda tersebut dengan baik dan penuh sayang. sehingga para tetangga tetap nyinyir dengan berkata udah miskin, harus memelihara begitu banyak kuda, kasihan benar diri kalian. dan Mantan budak beserta putranya menjawab seperti biasa *” Aku tak tau, apakah ini musibah atau berkah, aku hanyalah berprasangka baik pada Allah”.*

Hari demi hari mereka tetap memlihara kuda-kuda tersebut dengan penuh kasih sayang, pada pagi hari yangn cerah, Anak mantan budak tersebut mencoba untuk menjinakkan kuda-kuda mereka hingga jatuhlah ia dari kuda yang hendak dicoba untuk dijinakkan tersebut. Kakinya patah, sehingga harus dirawat dan di perban. Para tetangga datang menengok. Mereka menatap anak itu dengan pandangan iba. “Kami turut prihatin,” kata mereka. “Ternyata kuda itu tidak membawa berkah. Mereka datang membawa musibah. Alangkah lebih beruntung yang tak memiliki kuda, namun anaknya sehat sentosa!. Dan bapak serta anaknya serempak menjawab  *” Aku tak tau, apakah ini musibah atau berkah, aku hanyalah berprasangka baik pada Allah”.*

Keesokan harinya, datanglah hulubalang raja ke kampung mereka. Dia mengumumkan pengerahan pasukan untuk menghadapi tentara musuh yang telah menyerang perbatasan. Semua yang sehat jasmani dan rohani wajib bergabung untuk mempertahankan negeri. Sayang, perang ini sulit dikatakan sebagai jihad di jalan Allah karena musuh yang hendak dihadapi adalah sesama muslim. Mereka hanya berbeda kesultanan.

Petugas datang mendata, dan alhasil si anak budak merdeka itu tidak diizinkan untuk berperang karena sakit dan tidak memenuhi syarat.Dan hari itu, lagi-lagi para tetangga yang ditinggalkan putera-puteranya, mendatangi rumah si pemilik kuda. “Ah, nasib!” kata mereka. “Kami kehilangan anak-anak lelaki kami tumpuan harapan keluarga. Kami lepas mereka tanpa tahu apakah mereka akan kembali atau tidak. Sementara puteramu tetap bisa di rumah karena kakinya patah. Kalian beruntung! Allah menyayangi kalian!.Tuan rumah pun bersedih melihat mendung dimuka wajah tetangganya. Kali ini anak dan bapaknya itu tersenyum kembali. Tapi ucapannya tetap sama *“Kami tak tahu, ini rahmat ata musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.”*

Sebulan kemudian, kota itu dipenuhi ratapan para ibu danisak tangis para istri. Sementara para lelaki hanya termangu dan tergugu. Kabarnya telah jelas, semua pemuda yang diberangkatkan perang tewas dimedan tempur. Tapi agaknya para warga telah belajar  banyak dari ayah beranak pemilik kuda itu. Seluruh penduduk kota ini mengumumkan kalimat indah itu. *“kami tidak tahu ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.”*

Singka cerita, tak berapa lama kemudian panggilan jihad sebenarnya bergema.Pasukan mongol dipimpin Hulagu Khan menyerbu wilayah islam dan membumi hanguskannya hingga rata dengan tanah. Orang-orang tak berprikemanusiaan itu mengalir bagai air bah meluluhlantakkan peradaban. Ayah dan anak itu pun menyongsong janjinya. Mereka bergegas menyambut panggilan dengan kalimat agungnya, *“Kami tak tahu apakah ini rahmat ataukah musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah!”*

Dan luar biasa, mereka memang menemui syahid. Namun Allah berikan nikmat kepada mereka untuk mereka nikamati. Sang anak tertangkap pasukan mongol dan dijual sebagai budak. Dan akhirnya Ia dibeli oleh Al-Kamil, seorang sultan Ayyubiyah di Kairo. Ketika pemerintahan Mamluk menggantikan Dinasti Ayyubiyah di Mesir, karirnya menanjak cepat dari komandan kecil menjadi panglima pasukan, lalu Amir wilayahnya. Terakhir, setelah wafatnya Az-Zahir Rukhnuddin Baibars, dia diangkat menjadi sultan, namanya Al-Manshur Saifuddin Qalawun.

Demikianlah sekelumit cerita tentang *berprasangka baik pada Allah,* semoga dengan cerita ini semakin membuat kita dekat pada *Allah.*

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
“Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, *husnudzan* kepada Allah memiliki hubungan kuat dengan amal shalih. Karena sesudahnya disebutkan anjuran untuk berdzikir dan mendekatkan diri dengan amal ketaatan kepada-Nya ‘Azza wa Jalla. Maka siapa yang berprasangka baik kepada Allah pasti ia terdorong untuk berbuat baik.

Al-Hasan al-Bashri berkata,

المؤمن أحسنَ الظنّ بربّه فأحسن العملَ ، وإنّ الفاجر أساءَ الظنّ بربّه فأساءَ العمل

“Sesungguhnya seorang mukmin selalu berhusnudzan kepada Tuhannya lalu ia memperbagus amalnya. Dan sesungguhnya seorang pendosa berpesangka buruk kepada Tuhannya sehingga ia berbuat yang buruk.” (Diriwayatkan *Imam Ahmad dalam al-Zuhd, hal. 402*)