Kajian Muamalah

istiqomah yang sesungguhnya dan inilah pertanda diterimanya amal sholeh

ISTIQAMAH MELESTARIKAN NILAI RAMADHAN DALAM MUAMALAH

Asyari Suparmin | Senin, 10 Juli 2017 - 20:46:40 WIB | dibaca: 189 pembaca

ISTIQAMAH MELESTARIKAN NILAI RAMADHAN DALAM MUAMALAH

“Asyari Suparmin, MA

Bulan Ramadhan yang penuh dengan berkah dan keutamaan berlalu sudah. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang celaka karena tidak mendapatkan pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala selama bulan Ramadhan, sebagaimana tersebut dalam doa Malaikat Jibril dan diamini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :]

Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala 
(
HR. Ahmad [2/254], Al-Bukhari

Oleh karena itu, mohonlah dengan sungguh-sungguh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia menerima amal kebaikan kita di bulan yang penuh berkah ini dan mengabulkan segala doa dan permohonan ampun kita kepada-Nya, sebagaimana sebelum datangnya bulan Ramadhan kita berdoa kepada-Nya agar Dia Subhanahu wa Ta’ala mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan hati kita kita dipenuhi dengan keimanan dan pengharapan akan ridho-Nya.

Demi Allah, inilah hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sejati, yang selalu menjadi hamba-Nya di setiap tempat dan waktu, bukan hanya di waktu dan tempat tertentu.

Imam asy-Syibli pernah ditanya, “Mana yang lebih utama, bulan Rajab atau bulan Sya’ban?” Maka beliau menjawab,

 Jadilah kamu seorang Rabbani (hamba Allah Subhanahu wa ta’ala yang selalu beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan tempat), dan janganlah kamu menjadi seorang Sya’bani (orang yang hanya beribadah kepada-Nya di bulan Sya’ban atau bulan tertentu lainnya).” 
(
dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam Kitab Latha-iful ma’aarif, hal. 313)

Maka sebagaimana kita membutuhkan dan mengharapkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala di bulan Ramadhan, bukankah kita juga tetap membutuhkan dan mengharapkan rahmat-Nya di bulan-bulan lainnya?

Istiqomah

Inilah makna istiqomah yang sesungguhnya dan inilah pertanda diterimanya amal sholeh seorang hamba. Imam Ibnu Rajab berkata, “Sesungguhnya Allah jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal sholeh setelahnya, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka (ulama salaf) :

Ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya. 
Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu merupakan pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala), sebagaimana barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia dia mengerjakan perbuatan buruk (setelahnya), maka itu merupakan pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal kebaikan tersebut.” 
Oleh karena itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan puasa 6 hari di bulan Syawal, yang keutamannyasangat besar. 
Yaitu menjadikan puasa Ramadhan dan puasa 6 hari di bulan Syawal pahalanya seperti puasa setahun penuh, sebagaimana sabda Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

*“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh.”* 
(
HR. Muslim No. 1164)

Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah amal yang paling terus-menerus dikerjakan meskipun sedikit.” 
(
HR. Al-Bukhari No. 6099 dan Muslim No. 783)

Ummul mu’minin ‘Aisyah Radhyallahi anha berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengerjakan suatu amal (kebaikan) maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan merutinkannya.” 
(HR. Muslim No. 746)

Pertama, tidak gampang berbuat dosa. Ibadah Ramadhan yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya membuat kita mendapatkan jaminan ampunan dari dosa-dosa yang kita lakukan selama ini, karena itu semestinya setelah melewati ibadah Ramadhan kita tidak gampang lagi melakukan perbuatan yang bisa bernilai dosa, apalagi secara harfiyah Ramadhan artinya membakar, yakni membakar dosa. Kalau dosa itu kita ibaratkan seperti pohon, maka bila sudah dibakar, pohon itu tidak mudah tumbuh lagi, bahkan bisa jadi mati, sehingga dosa-dosa itu tidak mau kita lakukan lagi.

Kedua nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan adalah hati-hati dalam bersikap dan bertindak. Selama beribadah Ramadhan, kita cenderung berhati-hati dalam melakukan sesuatu, hal itu karena kita tidak ingin ibadah Ramadhan kita menjadi sia-sia dengan sebab kekeliruan yang kita lakukan. Secara harfiyah, Ramadhan juga berarti mengasah, yakni mengasah ketajaman hati agar dengan mudah bisa membelah atau membedakan antara yang haq dengan yang bathil. Ketajaman hati itulah yang akan membuat seseorang menjadi sangat berhati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku. Sikap seperti ini merupakan sikap yang sangat penting sehingga dalam hidupnya, seorang muslim tidak asal melakukan sesuatu, apalagi sekadar mendapat nikmat secara duniawi.

Nilai ibadah Ramadhan ketiga yang harus kita lestarikan dalam kehidupan sesudah Ramadhan adalah bersikap jujur. Ketika kita berpuasa Ramadhan, kejujuran mewarnai kehidupan kita sehingga kita tidak berani makan dan minum meskipun tidak ada orang yang mengetahuinya. Hal ini karena kita yakin Allah swt yang memerintahkan kita berpuasa selalu mengawasi diri kita dan kita tidak mau membohongi Allah swt dan tidak mau membohongi diri sendiri karena hal itu memang tidak mungkin, inilah kejujuran yang sesungguhnya. Karena itu, setelah berpuasa sebulan Ramadhan semestinya kita mampu menjadi orang-orang yang selalu berlaku jujur, baik jujur dalam perkataan, jujur dalam berinteraksi dengan orang, jujur dalam berjanji dan segala bentuk kejujuran lainnya.

Keempat yang merupakan nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan adalah memiliki semangat berjamaah. Kebersamaan kita dalam proses pengendalian diri membuat syaitan merasa kesulitan dalam menggoda manusia sehingga syaitan menjadi terbelenggu pada bulan Ramadhan. Hal ini diperkuat lagi dengan semangat yang tinggi bagi kita dalam menunaikan shalat yang lima waktu secara berjamaah sehingga di bulan Ramadhan inilah mungkin shalat berjamaah yang paling banyak kita laksanakan, bahkan melaksanakannya juga di masjid atau mushalla.

kelima yang harus kita lakukan sesudah Ramadhan berakhir adalah melakukan pengendalian diri. Puasa Ramadhan adalah pengendalian diri dari hal-hal yang pokok seperti makan dan minum. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang pokok semestinya membuat kita mampu mengendalikan diri dari kebutuhan kedua dan ketiga, bahkan dari hal-hal yang kurang pokok dan tidak perlu sama sekali. Namun sayangnya, banyak orang telah dilatih untuk menahan makan dan minum yang sebenarnya pokok, tapi tidak dapat menahan diri dari hal-hal yang tidak perlu, misalnya ada orang yang  mengatakan: “saya lebih baik tidak makan daripada tidak merokok”, padahal makan itu pokok dan merokok itu tidak perlu. “

Tidak kalah penting adalah bagaimana Istiqamah damal berekonomi syariah

Dalam kaidah fiqh, "al ashlu fil muamalah al ibahah, illa maa dalla dalil 'ala tahrimihaa." Asal dalam muamalah itu BOLEH kecuali ada dalil yang melarangnya. Jadi hukum dalam muamalah itu, lakukan saja selama tidak ada dalil yang melarangnya.

Ummat Islam Indonesia diperkirakan akan menguasai 4 F, yaitu Food, Fashion, Fun, dan Finance. Keempat elemen ini tercakup dalam ekonomi syariah. Food, sudah banyak banget makanan halal di Indonesia. Label Halal Indonesia menjadi benchmarking bagi label halal negara lain. Makanan terlezat di dunia adalah rendang, dan ini halal. Indonesia bisa menguasai dalam hal halal food ini. Indonesia mampu menjadi kiblat.  masih banyak alasan kenapa kita harus yakin untuk berekonomi islami.

  "Al Haqqu min Rabbika, falaa takunanna minal mumtariin." 

Ironis memang mengapa di negeri MAYORITAS MUSLIM , EKONOMI SYARIAH menjadi tamu bahkan menjadi minoritas  tengok saja market Bank Syariah masih kisaran 5 %dan Asuransi Syariah baru 2 % artinya 95 % nya menggunakan perbankan HARAM, 98 % menggunakan ASURANSI  HARAM.

Sebagai Muslim tidak perlu alasan apalagi membandingkan dengan yang lain  BAGAIMANA MUNGKIN  yang HALAL di bandingkan dengan yang jelas HARAM, seperti BANK SYARIAH, ASURANSI SYARIAH juga yang lainnya, RIBA jelas Haramnya mengapa masih ragu dengan sekedar penampilan luar seakan KONVEN itu lebih BAIK.

Untuk itu Saat nya Ummat Islam HIJRAM TOTAL KE BANK SYARIAH, ASURANSI SYARIAH DI bulan yang penuh berkah ini