Fiqh Muamalah

RIBA DALAM PERSPEKTIF AGAMA SAMAWI

KEUNGGULAN EKONOMI SYARIAH

Asyari Suparmin | Rabu, 13 Januari 2016 - 06:34:00 WIB | dibaca: 227 pembaca

RIBA DALAM PERSPEKTIF AGAMA SAMAWI

 

Sebagaimana difirmankan Allah Swt dalam Qur’an Surat Al-Maidah ayat 48 : “ Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan (syari’at) dan jalan yang terang (minhaj).”

Syariat Allah kepada tiap-tiap umat berwujud agama-agama samawi. Kesemuanya memiliki benang merah yang intinya membentuk ketarturan manusia di dunia dalam menjalankan fungsinya sebagai hamba dan khalifah dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bermu’amalah Sebagaimana difirmankan Allah Swt dalam Qur’an Surat Al-Maidah ayat 48 : “ Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan (syari’at) dan jalan yang terang (minhaj).”

. Diantara syari’at mu’amalah agama samawi yang memiliki ruh yang sama adalah masalah riba.

Pengertian Riba

Secara etimologis, riba berarti pertumbuhan (growth), naik/meningkat (rise), membengkak (swell), bertambah (increase) dan tambahan (addition) .

Pengertian riba secara istilah adalah tambahan yang harus diberikan pada modal yang dipinjamkan dan harus diterima oleh yang berpiutang sesuai dengan jangka waktu pinjaman dan prosentase yang ditetapkan. Dalam pengertian lain sebagai tambahan dari pokok pinjaman harta,] atau pertambahan harta tanpa adanya iwadh (konpensasi)

Praktek riba dalam lintasan sejarah

Dalam sejarah ekonomi, praktek bisnis dengan system riba telah ada sejak 2.500 SM, di Yunani, Romawi Kuno dan Mesir Kuno. Demikian pula, transaksi riba ini juga di jalankan di Mesopotamia (sekarang wilayah Iraq) pada tahun 2000 SM. Demikian pula Plato (427-345 SM) dalam bukunya Laws mengutuk bunga dan memandang sebagai praktik ekonomi yang dzalim. Ia berpendapat bahwa uang fungsinya hanya sebagai alat tukar, pengukuran nilai dan alat penyimpanan kekayaan. Uang hanya bisa bertambah dengan bisnis riel.

Selanjutnya, pada periode awal Kerajaan Romawi Kuno. melarang keras setiap transaksi pinjaman dengan bunga (riba). Pada perkembangan berikutnya, pemerintahan Romawi membuat undang-undang tentang pembatasan besarnya bunga untuk melindungi konsumen.

Praktek bisnis dengan system riba juga berkembang di tanah Arab sebelum kerasulan Muhammad. Dalam sejarah tercatat, bahwa Arab cukup maju dalam perdagangan bahkan telah melakukan perdaganagn internasional. Suku Quraisy, sebagai suku yang paling dihormati, mengadakan interaksi  perniagaan dengan penduduk  Mesir, Syiria,  Irak, Iran, Yaman dan Ethiopia

Riba dalam pandangan Agama Samawi

Riba dalam pandangan Yahudi

Ajaran Yahudi melarang praktik tiba dalam bermu’amalah. Larangan ini dapat dilihat dalam Perjanjian Lama (Torah).  Dalam Kitab Keluaran (Exodus) ayat 22 pasal 25 disebutkan :

Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umatku, orang-orang miskin diantaramu, maka janganlah engkau berlaku seperti penagih hutang  terhadap dia janganlah kamu membebankan bunga uang kepadanya

Selanjutnya dalam Kitab Imamat (Levicitus) ayat 25 pasal 35-37, dijelaskan :

Apabila saudaramu jatuh miskin sehingga tidak sanggup bertahan diantaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang supaya ia dapat hidup diantaramu (35) Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya melainkan engkau harus takut kepada Allahmu supaya saudaramu dapat hidup diantaramu (36) janganlah engkau memberi/meminjamkan uang kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah engkau berikan dengan meminta riba (37

 “ Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu baik uang atau bahan makanan apapun yang dapat dibungakan (19) Dari orang asing boleh engkau memungut bunga, supaya Tuhan, Allahmu memberkati engkau dalam segala usahamu di negeri yang engkau masuki untuk mendudukinya (20
Riba dalam pandangan  Nasrani

Pelarangan riba dalam ajaran Nasrani tertera dalam Perjanjian Baru. Dalam Kitab Injil Lukas pasal 6 ayat 34 – 35 yang membahas tema tentang kasihilah musuhmu, dijelaskan  sebagai berikut:

“ Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa supaya menerima kembali sama banyak (34) Tetapi kamu kasihilah musuhmu dan berbuat baiklah kepada mereka dan pinjamkanlah dengan tidak mengharapkan balasan (bunga), maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah yang maha Tinggi sebab ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterimakasih dan terhadap orang jahat. (35)”

Riba dalam Hindu dan Budha

Praktek riba (rente) dalam agama Hindu dan Budha dapat kita temukan dalam naskah kuno India. Teks - teks Veda India kuno (2.000-1.400 SM) mengkisahkan “lintah darat” (kusidin) disebutkan sebagai pemberi pinjaman dengan bunga. Atau dalam dalam teks Sutra (700-100 SM) dan Jataka Buddha (600-400 SM) menggambarkan situasi sentimen yang menghina riba.

 

Riba dalam Pandangan  Islam

: Al-Qur’an memberikan alternative yang baik untuk mendapatkan keberkahan harta dengan cara shadaqah sekaligus mencela perbuatan riba, sebagaimana disebutkan didalam surat Ruum ayat 39:

Dan  sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridoan allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya

Tahap kedua: Al-Qur’an memberikan gambaran tentang akibat buruk dari orang-orang Yahudi yang tidak mengindahkan larangan Allah. Sikap Yahudi tersebut dianggap suatu kedzaliman yang akan dibalas Allah di Akhirat dengan azab yang pedih sebagaimana dijelaskan dalam surat Ann-Nisa 160-161:

“Maka disebabkan kedzaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan allah (160) dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih (161

Tahap ketiga : Allah mengharamkan riba secara terbatas, yaitu  riba yang berlipat ganda sebagaimana yang bias dilakukan oleh orang-orang Yahudi Arab, sebagaimana diterangkan dalam surat Ali Imran ayat 130:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kau  kepada allah supaya kamu mendapat keberuntungan

. Penegasan ini sebagaimana disabdakan  Rasulullah Saw dalam hadits yang diriwayatkandari Abdullah bin Hanzhalah :

 “Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan mengetahui bahwa itu adalah uang riba dosanya lebih besar dari pada berzina sebanyak 36 kali (HR. Ahmad)

.Tahap keempat : tahap ini merupakan finalisasi dari pelarangan riba dalam Al-Qur’an. Dalam surat al-Baqarah ayat 275-280, Allah menjelaskan secara gamlang tentang haramnya riba, dimulai dengan menggambarkan prilaku buruk orang-orang yang memakan harta riba sampai kepada solusi bagi kaum muslim untuk menghidarinya.

Allah memerintahkan meninggalkannya secara total, sebagaimana diterangkan dalam Surat Al-Baqarah : 278-279:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.(278) Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa allah dan rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba) maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya (279)

 

Riba dalam Hadis

“Dari Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi Saw bersabda: “Riba itu ada 73 tingkatan, yang paling ringan daripadanya adalah seumpama seseorang menzinai ibunya sendiri.” (Al-Hakim)

 “Satu Dirham dari riba yang diambil seseorang, lebih besar dosanya di sisi Allah dari 33 kali berzina dalam agama Islam.”"  (HR.Thabrany)

 Rasulullah Saw melaknat pemakan riba, orang yang membayarnya, juru tulisnya, dan saksi-saksinya. Dia bersabda,”Mereka semua sama.” (HR. Muslim)

 “Tinggalkanlah tujuh perkara yang membinasakan. Para sahabat bertanya, “Apakah itu ya Rasul?. Beliau menjawab, syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa orang yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri ketika peperangan berkecamuk, menuduh wanita suci berzina”. (HR..dari Abu Hurairah).

 

Dalam hadits lain Nabi barsabda, “Empat golongan yang tidak dimasukkan ke dalam syurga dan tidak merasakan nikmatnya, yang menjadi hak prerogatif Allah, Pertama, peminum kahamar, Kedua pemakan riba, Ketiga, pemakan harta anak  yatim dan keempat, durhaka kepada orang tuanya”.(H.R. Hakim).

(dari berbagai sumber)