Asuransi Syariah

Perbedaan dan Landasan Asuransi syariah

PERBEDAAN DAN LANDASAN ASURANSI SYARIAH

Asyari Suparmin | Sabtu, 09 Januari 2016 - 17:51:48 WIB | dibaca: 183 pembaca

Perbedaan dan Landasan Asuransi Syariah

PERBEDAAN DAN LANDASAN ASURANSI SYARIAH

Mengapa  Harus Asuransi Syariah ?

 

Sebagai seorang Muslim sudah seharusnya ketaatan pada Hukum adalah sesuatu yang tidak bisa di tawar lagi, hal in bukan hanya terkait dengan ibadah mahdoh seperti syahadah sholat zakat puasa dan haji namun juga system muamalah dalam bertransaksi. Di antanya adalah berasuransi, saat sudah ada yang sesuai syariah terlepas masih ada kekurangan disana sini MUTLAK harus menjadi pilihan  Kenapa ?

 

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (Al Baqarah 208).

 

Dasar ayat tersebut  cukup tanpa melihat  dari sisi angka atau benefitnya.

Di pertegas Fatwa haramnya RIBA oleh MUI .

 

Asuransi sistem syariah pada intinya memang punya perbedaan mendasar dengan yang konvensional, antara lain:

 

Pertama : Prinsip dasar yang melandasi

yang membedakan secar prinsip yang mendasar adalah  dasar yang melandasi pada asuransi konvensional atas pengalihan resiko resiko yang biasa di tanggung sendiri atau perusahan di alihkan pada asuransi dengan membayar sejumlah premi  atau  yang sering di sebut transfer Risk. Sedang di Syariah  berbagi Resiko atau sharing Risk aritnya menyadari atas resiko itu ada antara peserta satu dengan lainnya berniat salaing “taawun” atau salin menanggung resiko dengan menyisihkan sebagai dana tabaru’ kemudian perusahaan asuransi sebagai pemegang amanah dalam peneglolaan.

 

Kedua : Aqad Yang di gunakan

Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). Di mana nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tadabuli (jual-beli antara nasabah dengan perusahaan).

 

Ketiga  : Investasi Dana

Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Sedangkan pada asuransi konvensional, premi menjadi milik perusahaan dan perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut.

 

Keempat : Sumber Klaim

Bila ada peserta yang terkena musibah, untuk pembayaran klaim nasabah dana diambilkan dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong. Sedangkan dalam asuransi konvensional, dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan.

 

Kelima  : Surplus Under writing

Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola, dengan prinsip bagi hasil. Sedangkan dalam asuransi konvensional, keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Jika tak ada klaim, nasabah tak memperoleh apa-apa.

 

Keenam : Struktur Organisasi Perusahaan

Adanya Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah yang merupakan suatu keharusan. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen, produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. Adapun dalam asuransi konvensional, maka hal itu tidak mendapat perhatian.

 

1.                 Landasan  Al-Qur’an

       Dalam alquran memang tidak di ketemukan ayat yang secara tegas tentan asuransi baik itu dalm makna takaful atau yang lainnya, namun drai ayat ayat di bwah ini bisa di jadikan landasan adanya asuransi syariah

 

1.      Surah al-Maidah ayat 2

Aruransi tinya: “… tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya”. (Q.S, al-Maidah 5:2)

 

4.      Surah Yusuf ayat 46-49

Artinya: “(Setelah pelayan itu berjumpa dengan yusuf dia berseru: “Yusuf, hai orang yang amat yang dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya”. Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuaihendaklah kamu biarakan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu aakan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datangtahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur). (Q.S, Yusuf 12:46-49)

 

6.      Surah luqman ayat 34

Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat dan dialah yang  menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak seorangpun yang mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok; dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui dibumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi maha mengenal.” (Q.S, Luqman 31:34)

 

B.  Landasan   Sunnah Nabi SAW

               Artinya:  “diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad bersabda: Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan duniawinya seorang mukmin, maka Allah SWT. Akan menghilangkan kesulitangnya pada hari kiamat, barang siapa yang mempermudah kesulitan seseorang, maka Allah SWT. Akan mempermudah urusan dunia dan akhirat. (HR. Muslim)

bersabda Rasullulah SAW.

 

“Lebih baik jika engkau meninggalkan anak-anak kamu (ahli waris) dalam keadaan kaya raya, dari pada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin (kelaparan) yang meminta-minta kepada manusia lainnya.” (HR. Bukhari)

 

2.                 Berdasarkan dalil  Ijtihad

 

a. Fatwa Sahabat

Praktik sahabat berkenaan dengan pembayaran hukuman (ganti rugi) pernah dilaksanakan oleh Khalifah kedua, Umar bin Khattab. Pada suatu ketika Khalifah Umar memrintahkan agar daftar (diwan) saudara-saudara muslim disusun perdistrik. “Orang-orang yang namanya tercantum dalam diwan tersebut berhak menerima bantuan satu sama lain dan harus menyumbang untuk pembayaran hukuman (ganti rugi) atas pembunuhan (tidak disengaja) yang dilakukan oleh salah seorang anggota masyarakat mereka. Umarlah orang yang pertama kali mengeluarkan perintah untuk menyiapkandaftar secara professional perwilayah, dan orang-orang yang terdaftar diwajibkan saling menggung beban.

 

b. Ijma

Para sahabat telah melakukan ittifaq (kesepakatan) dalam hal aqilah yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab. Adanya ijma atau kesepakatan ini tampak dengan tidak adanya sahabat lain yang menentang pelaksanaanaqilah ini. Aqilah adalah iuran darah yang dilakukan oleh keluarga dari pihak laki-laki (ashabah) dari si pembunuh ( orang yang menyebabkan kematian orng lain secara tidak sewenang-wenang). Dalam hal ini, kelompoklah yang menanggung pembayarannya karena si pembunuh merupakan anggota dari kelompok tersebut. Dengan tidak adanya Sahabat yang menentang Kholifah Umar, dapat disimpulkan bahwa telah terdapat ijmadi kalangan Sahabat Nabi SAW. mengenai persoalan ini.

 

c. Qiyas

Yang dimaksud dengan qiyas adalah metode ijtihad dengan jalan menyamakan hukum suatu hal yang tidak terdapat ketentuannya di dalam Al-Quran dan As-Sunnah atau Al-Hadis dengan hal lain yang hukumnya disebut dalam Al-Quran dan As-Sunah/Al-Hadis karena persamaan illat (penyebab atau alasannya). Dalam kitab Fathul Bari, disebutkan bahwa dengan datangnya Islam sistem aqilah diterima Rasulullah SAW. menjadi bagian dari hukum Islam. Ide pokok dariaqilah adalah suku Arab zaman dahulu harus siap untuk melakukan kontribusi finansialatas nama si pembunuh untuk membayar ahli waris korban. Kesiapan untuk membayar kontribusi keuangan ini sama dengan pembayaran premi pada praktik asuransi syariah saat ini. Jadi, jika dibandingkan permasalahan asuransi syariah yang ada pada saat ini dapat di-qiyas-kan dengan sistem aqilahyang telah diterima di masa Rasullah.

 

d. Istihsan

Istihsan adalah cara menentukan hukum dengan jalan menyimpang dari ketentuan yang sudah ada demi keadilan dan kepentingan ssial. Dalam pandangan ahli ushul fiqh adalah memandang sesuatu itu baik. Kebaikan dari kebiasaanaqilah di kalangan suku Arab kuno terletak pada kenyataan bahwa sistem aqilah apat berdarah yang berkelanjutan.

 

Asuransi DI CARI  bukan karena orang pasti mati, tetapi  karena yang ditinggalkan HARUS TETAP HIDUP. Namun pastikan mereka hidup dari uang yang halal.