Thibun Nabawi

Urgensi Pola Hidup Halalan Toyyiban

Urgensi Pola Hidup Halalan Toyyiban

Asyari Suparmin | Kamis, 04 Juli 2017 - 10:35:54 WIB | dibaca: 127 pembaca

pola hidup halalan thoyiban

Bagi seorang mu’min, makanan bukanlah sekedar pengganjal perut kala lapar, akan tetapi ia bisa membawa manusia kedalam api neraka jika apa yang dimakan itu jika tidak halal (haram). Disamping itu makanan haram menyebabkan ibadah yang kita lakukan serta do’a yang kita panjatkan akan sia-sia. Mari kita perhatikan salah satu dari sekian banyak hadist terkait makanan haram berikut:

"Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah." Apa jawaban Rasulullah SAW, "Wahai Sa'ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya." (HR At-Thabrani)

Oleh karena itu, sebagai mu’min yang taat, kita harus mampu memilih hanya makanan yang baik dan halal saja yang kita konsumsi. Yang dimaksud halal disini baik halal pada zatnya maupun pada cara mendapatkannya.

Realita Masyarakat Muslim Indonesia

]1.  Kurangnya pemahaman dari sisi syariah, tentang perintah dan larangan terkait halal haram, akibat yang ditimbulkan dan pahala serta mafaat yang di dapat jika taat. Akibatnya adalah kurangnya kesadaran, kehati-hatian dan kepedulian. Contohnya ketika makan daging di warung makan (misalnya daging ayam), banyak diantara yang tidak peduli apakah ayam yang dimakan disembelih dengan menyebut nama Allah. Atau banyak yang tidak peduli apakah bumbu-bumbu yang dipakai mengandung bahan haram seperti ang ciu, minyak babi dan lainnya.

2.  Kurangnya pengetahuan dari sisi kemajuan teknologi pangan

Contohnya saja ketika kita berbicara  babi, dengan alasan “efisiensi produksi” dimana bahan-bahan dari babi jauh lebih murah dibanding lainnya, maka penggunaannya menjadi pilihan utama, terutama di negara non Muslim. Padahal banyak sekali produk-produk import yang beredar di negara ini atau produk lokal yang sebagian bahan bakunya import.

3. Kurangnya pemahaman dan kewaspadaan atas realita pasar. Dengan alasan harga dan upaya memperoleh keuntungan yang besar, banyak sekali kecurangan-kecurangan yang terjadi di pasar yang tidak disadari oleh masyarakat Muslim. Tengoklah kasus pencampuran daging sapi dengan babi, kasus penyeludupan babi hutan, bangkai ayam untuk bakso, sapi glonggongan, bahkan produk-produk yang sengaja dibuat seoleh halal namun haram.

 

4.  Kurangnya pemahaman akan hukum dan peraturan.  Contoh yang paling jelas adalah masalah label halal. Bayak diantara kita menganggap bahwa restoran atau produk yang mencantumkan label halal sudah pasti halal. Padahal realitanya banyak label halal adalah “self claim” alias pernyataan sepihak tanpa adanya pengujian dari badan yang berwenang. Jika saja masyarakat paham label seperti apa yang resmi dan yang bukan, maka mereka akan terhindar dari memakan makanan haram atau subhat.

Berkaitan dengan konsep ujian dunia, perhatikan hadist berikut : [I]Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yang halal. (HR. Ad-Dailami)

Surga itu mahal dan tidak hanya bisa dicapai dengan upaya yang seadanya. Harus ada upaya dan pengorbanan besar untuk memperolehnya diantaranya untuk lulus dari ujian dan mengumpulkan bekal pahala sebanyak-banyaknya dari ujian ini. Perhatikan firman Allah dan Sabda Rasullullah berikut ini :

Dampak dari Kodisi Masyarakat yang tidak Sadar Halal

Mari kita lihat “beberapa” dampak dari tidak adanya pemahaman dan kesadaran orang Muslim:

[#]Dengan leluasa produk-produk haram dan subhat di produksi karena [I]toh[/I] masyarakat Muslim mau membeli dan mengkonsumsinya

[#]Maraknya kecurangan dan pengelabuan produk haram menjadi “seolah” halal, [I]toh[/I] masyarakat muslim tidak mengetahuinya, kalaupun ketahuan tidak besar resikonya

[#]Sertifikasi halal bukan menjadi “nilai tambah” bagi produsen karena [I]toh[/I] banyak muslim yang tidak mempertanyakannya dan tidak menjadi pertimbangan dalam membeli.

[#]Produsen produk pangan dengan leluasa mencampurkan bahan-bahan haram (dengan pertimbangan harga yang lebih murah) [I]toh[/I] masyarakat Muslim tidak mengetahui dan mempertanyakannya.[/#]

[#]Produsen tidak lagi leluasa memproduksi produk tanpa sertifikasi Halal, bisa-bisa tidak ada yang membeli karena masyarakat sudah sadar halal

 [#]Kecurangan dan pengelabuhan akan ditekan secara minimal karena masyarakat sudah faham dan sadar, bahkan bisa melakukan tuntutan jika ketahuan.

[#]Sertifikasi Halal akan menjadi nilai tambah bahkan satu keharusan bagi produsen jika ingin produknya laku.

[#]Pemerintah akan lebih terdorong, mudah dan powerfull dalam menetapkan kewajiban sertifikasi Halal untuk produk pangan yang ada di Indonesia, karena merupakan aspirasi dari sebagian besar penduduknya.

Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk memakan yang halal dari makanan sebelum memerintahkan mereka untuk mengerjakan amal shalih. Karena makanan yang dikonsumsi seseorang memberi pengaruh yang kuat dalam amal-amal yang dikerjakannya.

 Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh.  Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mukminun: 51)

.

Dampak Buruk Makanan Haram

Di antara dampak buruk yang diakibatkan dari makanan yang haram adalah:

Pertama: makanan haram akan merusak hati. Apa yang dikonsumsi seseorang ke dalam perutnya memiliki hubungan sangat erat dengan qalbunya; sehat dan rusaknya. Karenanya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak.” Kemudian sesudah itu beliau bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati.” (Muttafaq ‘Alaih)

Al-Munawi berkata: “Rasulullah menyabdakan ini sesudah sabda beliau ‘perkara halal itu jelas’, sebagai peringatan bahwa makanan halal akan menyinari dan memperbaiki hati, sedangkan makanan syubuhat akan membuat hati keras.”

.

Kedua: Doa tidak dikabulkan. Karena makanan haram menghalangi terkabulnya doa dan diijabahi permohonan. Dalilnya, hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang menyebutkan seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo'a: ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.’ Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan dikenyangkan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do'anya?” (HR. Muslim)

Umar bin al-Khathab berkata, “Dengan menjauhi apa yang Allah haramkan dan bertasbih maka akan dikabulkan doa.”

Ibnu Rajab berkata, “Makanan, minuman, dan pakaian yang haram serta mengenyangkan diri dengannya menjadi sebab tidak dikabulkannya doa.”

Ketiga: Merusak amal-amal shalih. Akibatnya, makanan yang haram menyebabkan amal-amal ibadah tidak diberi pahala.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Shalat tidak diterima tanpa bersuci & tidak pula shaqadah yang dari kecurangan akan diterima.” (HR. Muslim)

Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhu berkata, “Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang di dalam lambungnya terdapat makanan haram.”

Keempat: merasa hina dan rendah. Mengonsumsi makanan haram akan merasa hina dan rendah diri karena dia hidup di atas kezaliman terhadap orang lain, memakan harta mereka dan merampas hak-hak mereka. Sehingga hatinya merasa hina dan jiwanya merasa rendah. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

 

 Dan dosa adalah sesuatu yang membuat goncang hatimu dan engkau tidak suka orang-orang mengetahuinya.” (HR. Muslim)

Kelima: Menyebabkan keturunannya rusak. Yakni makanan haram yang dikonsumsi seseorang untuk dirinya dan keluarganya akan menyebabkan keturunannya menjadi rusak agama dan akhlaknya. Allah tidak menjaga mereka sebagai hukuman atas perbuatan orang tua yang mengambil yang haram. Karena anak yang shalih, baik, dan nurut menjadi pembahagia dan permata untuk orang tuanya. Allah cabut kebahagiaan ini dari hidupnya.

 

Mewujudkan Masyarakat Sadar Halal, Apa Kontribusi Kita?

Pemahaman dan kesadaran masyarakat atas kondisi saat ini dan kewajiban untuk melindungi diri dari sesuatu yang haram ini menurut kami merupakan langkah awal yang harus di perjuangkan. Beginilah selalu siklus da’wah para Rasul. Titik pertama selalu dimulai dari penyampaian ilmu sehingga timbul pemahaman. Pemahaman yang benar dan utuh akan menimbulkan keyakinan dan kesadaran sehingga timbulah motivasi dalam diri yang akan melahirkan amal atau action.

“PEDULI HALAL  TANGGUNG JAWAB BERSAMA”